KATA PENGANTAR

Ide untuk menulis blog ini datang ketika suatu hari aku melihat-lihat kembali album-album foto keluarga waktu kami berdomisili di Harare, Zimbabwe. Ketika itu anak-anak masih kecili-kecil, sekarang ketika mereka sudah beranjak dewasa, mereka pun banyak bertanya pada saat kami membenahi foto-foto ini, aku langsung sadar bahwa foto ini banyak memiliki kenangan dan mengisahkan pengalaman dan perjalanan hidup aku.

Negeri adalah lokasi yang terasa oleh semua panca indera kita. Saat kaki mulai menapak di suatu tempat, maka semua indera kita merasakan apapun yang bisa dilumat, diserap, dicerna dan dinikmati. Semua dapat direkam oleh otak, kamera dijital, perekam video, untuk kemudian dikeluarkan kelak dalam sebuah cerita perjalanan. Mulut dapat berbicara tentang segala yang telah dirasa, tangan dapat menuliskan semua keasyikan pengalaman yang ada. aku menjadi terinspirasi untuk menulis Otobiografi (pengalamanku ini) yang biasanya hanya ditulis orang terkenal,

Malam ini aku mencoba membongkar-bongkar memori ku yang mengendap dalam kepingan peristiwa kurang lebih 20 tahun yang lalu, yakni permulaan tahun 1987. Tahun itu merupakan awal aku bekerja, sekaligus tahun pertama mengenal Negara lain. Ketika kepingan peristiwa itu berkelebat, aku pun tersenyum simpul, mengenang peristiwa yang telah terjadi 20 tahun yang lalu itu. Ya banyak peristiwa-peristiwa yang telah aku lalui diantaranya ketika saat pertama kali aku naik pesawat dan pergi ke luar negeri.

Tidak terasa waktu ini berjalan sangat cepat rasanya, masih teringat dulu waktu masih balita, kedua orang tua sering mengajak aku jalan2 ke taman remaja (sebelahnya Hi-tech Mall) untuk mencari hiburan di sana supaya aku bisa bersenang-senang, trus waktu beranjak, dari TK, SD, SMP, SMA sayang aku tidak bisa menikmati masa-masa kuliah, dan sekarang sudah lebih dari 25 tahun aku meninggalkan bangku SMA itu dengan masa-masa yang indah. Perjalanan hidup itu banyak sekali lika likunya dan dilalui kadang suka tapi juga tidak sedikit merasakan duka pahitnya hidup ini. Tapi bagaimanapun itu puji syukur kehadirat Illa hi Robbi semua bisa dilalui dengan sebagaimana mestinya.

Terus terang saja aku bukan orang yang pintar menulis, bahkan jauh dari pintar. Semalaman bisa jadi aku merangkai kata-kata, akan tetapi hasilnya bisa jadi hanya sebuah tulisan yang jauh dari bagus yang akhirnya aku corat-coret sendiri "Hhh … menulis itu memang tidak mudah.!" Begitu kata aku berapologi",

.Tulisan aku ini mungkin tidak merupakan kenangan yang indah bagi orang lain. Tapi, bagi aku ini merupakan semacam "memorabilia" artinya suatu peristiwa yang patut dikenang. bertujuan sebagai suatu memori berupa episode hidup seorang yang bernama Hary Sudarmanto.

Sekali aku memang bukan seorang yang pintar menulis, maka pembaca tidak akan dapati tulisan yang bagus dalam buku ini. Akan tetapi aku yakin, suatu saat tulisan aku pasti bagus. Kapan itu ? aku tidak tahu. Ya "asal berani mencoba".

Aku berharap buku ini dapat bermanfaat bagi anak-anakku, kerabat dan teman-teman.

Sekecil apapun yang kita lakukan tetap saja punya arti.

selamat membaca …… !!!!

MENGENAI PENULIS

Hary Sudarmanto lahir di Jakarta tanggal 12 Juni 1965, dari pasangan R.Darwono dan R.A. Sutirahayu, sejak kecil sampai usia 21 tahun, Hary mengikuti orang tuanya yang tinggal di Jakarta, Hary sempat mengenyam pendidikan SD di SDN Cawang Timur Pagi (1971 – 1974) SD Negeri Cipinang Cempedak 09 Pagi (1975 – 1977), SMP Negeri 80 Halim P.K (1978 – 1981).dan SMA Negeri 39 Cijantung, (1981 – 1984) lulus pada usia 19 tahun.



Pengalaman bekerjanya dimulai tahun 1987, pada usia 21 tahun, ketika Hary menjadi Local Staff Sub Bagian Administrasi di Kedutaan Besar RI di Harare, Zimbabwe. Dilingkungan KBRI dia dikenal dengan nama panggilan Toto.

Dengan pendidikannya yang minim Hary berusaha menambah pengetahuan dengan mengikuti berbagai kursus untuk menunjang pekerjaannya sehari-hari, sejak di Harare hingga kini berbagai macam kursus telah diikuti antara lain : English as Foreign Language tahun 1989 di ESB International, Harare, Elementry Word Processing tahun 1990 CCOSA, Harare, Komputer Lotus 1-2-3 dan Word Perfect tahun 1991 Compu Serve, Harare, Beginners Business Communications tahun 1991 Harare Polytechnic, Harare, Introduction to Basic Programming tahun 1992 Sutherland Computer, Harare, Introduction to Dbase III+ tahun 1994 Speciss College, Harare, IATA Ticketing and Reservation tahun 1995 Speciss College di Harare, Akuntansi pada tahun 1998 di Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Manajemen, Jakarta.

Selain dari pada itu Hary juga mengikuti berbagai macam pelatihan, training dan seminar yang berkaitan dengan bidang pekerjaan yang pernah dijalaninya diantaranya :

  • Seminar UYHD diselenggarakan di Konsulat Jenderal RI di Cape Town, Afrika Selatan (September 1995) dengan Nara sumber dari Direktorat Jenderal Anggaran Depkeu dan Biro Keuangan Deplu;
  • Sales Systems dalam Bidang Property/Real Estate diselenggarakan oleh ERA Indonesia di Jakarta (Maret 1997);
  • Sosialisasi Terpadu RKA-KL, Pelaksanaan DIPA dan Jabatan Fungsional Diplomat diselengarakan di Hotel Danube (Kedutaan Besar RI) di Bratislava, Slovakia (Desember 2006) dengan nara sumber dari Bapenas, Ditjen Anggaran Depkeu dan Biro Perencanaan dan Organisasi Deplu;
  • Sosialisasi dan Bimetk Sistim Informasi Manajemen Keuangan SIMKEU IV +1 AMD diselenggarakan di Hotel President (Kedutaan Besar RI) di Kyiev, Ukraina (Maret 2007);
  • Pelatihan Sistem Akuntansi Barang Milik Negara (SABMN) diselenggarakan di Hotel Sheraton Media, Jakarta (Mei 2008);
  • Sosialisasi Terpadu Keuangan dan Jabatan Fungsional Diplomat diselenggarakan di Kedutaan Besar RI Kairo, Mesir (Desember 2008) dengan nara sumber Bapenas, BPK dan Biro Keuangan, Deplu;
  • Bimtek Sistem Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (SAKPA) dan Sosialisasi Sistem Informasi Manajemen Keuangan Real Time diselenggarakan di Konsulat Jenderal RI di Jeddah (Agustus 2009) nara sumber Ditjen Depkeu, Bagian Verifikasi Biro Keuangan, Deplu.

Berbagai pengalaman kerjapun didapatnya sejak mulai dari KBRI Harare pada tahun 1987 hingga terakhir dia dipercaya sebagai Staf Keuangan pada Kedutaan Besar RI di Tripoli, Libya.

Diawali pada bulan Januari 1987 hingga bulan Agustus 1996, Hary mulai bekerja sebagai Pegawai Setempat (Local Staff) pada Kedutaan Besar R.I. di Harare, Zimbabwe, sebagai staff Administrasi Umum dipercaya untuk melaksanakan tugas-tugas guna menunjang aktivitas Kantor Perwakilan yang baru dibuka, Hary mengerjakanya dengan penuh semangat, dan saling bekerja sama sehingga lambat laun menjadikannya seorang yang professional dibidangnya.

Sebagai Staff Administrasi Hary pada mulanya hanya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya ringan diantaranya memelihara, menjaga dan menyimpan file-file yang berhubungan dengan masalah keuangan, membuat payroll gaji Home Staff dan Local Staff, Tunjangan Sewa Rumah, mengetik Surat-surat dinas, yang dijalani selama kurun waktu 3 tahun lamanya. Dengan adanya pergantian pimpinan, oleh pimpinan yang baru, Hary mendapat tugas untuk jenis pekerjaan yang lebih berat, yang selama ini belum pernah diketahui maupun dipelajari, namun berkat kegigihannya dan mempelajarinya secara otodidak ia dapat mengerjakan seluruh tugas-tugas yang telah didelegasikan oleh pimpinannya, atas kecakapannya pimpinan memberikan kepercayaan kepada Hary sebagai Operator Komputer untuk Sistim Informasi Keuangan sekaligus kepadanya dipercaya untuk menjabat sebagai Kasir, sebuah jabatan yang memilik tanggung jawab besar dan termasuk paling tinggi di kalangan sesama Local Staff.

Hary juga dipercaya oleh Pimpinan untuk membantu tugas-tugas dibidang keprotokolan dan telah berhasil membangun networking yang baik dengan instansi Pemerintah maupun swasta setempat yang sangat dirasakan manfaatnya oleh KBRI Harare.

Dengan kecakapan seperti tersebut diatas, atas rekomendasi dari Pimpinan KBRI Harare, pada bulan Mei 1990 Hary diperbantukan kepada Advance Team untuk membuka Kantor Perwakilan RI di Windhoek untuk menyelesaikan pekerjaan Pertanggung Jawaban Keuangan dan Administrasi lainnya selama kurang lebih 1 bulan.

Pekerjaan ini dijalaninya hingga Mei 1996, pada bulan Juni 1996 Hary di rotasi sebagai Staf Bidang Politik untuk membantu tugas-tugas Kepala Bidang Politik dalam membina hubungan diplomatik antar kedua negara, memonitor perkembangan politik dalam negeri Zimbabwe, yang besar pengaruhnya terhadap kepentingan NKRI. Pekerjaan ini dijalaninya selama kurang lebih 3 bulan hingga akhirnya mengundurkan diri pada bulan Agustus 1996.

Dengan pengalaman kerja yang didapat di Zimbabwe, selama ini membuat Hary optimis untuk mendapatkan pekerjaan baru di kampung halamannya sendiri, berbagai lamaran dikirimkan ke berbagai perusahaan, Hary ingin mencari suasana baru, karena timbul kejenuhan setelah sekian lama bekerja dilingkukangan birokrasi pemerintahan.

Sebuah tantangan baru dihadapi oleh Hary ketika dia diterima bekerja sebagai Marketting Executive di sebuah perusahaan Developer (PT. MASA KREASI), jelas ini bertentangan dengan pengalamannya yang lebih banyak berkecimpung di bidang Administrasi dan keuangan.

Sebuah tugas dibebankan kepadanya untuk melaksanakan kebijakan, prosedur dan program penjualan perumahan, mengembangkan dan mengimplementasikan strategi dan aktivitas penjualan, memimpin dan mengkoordinir tim Penjualan dan Pemasaran. Sebagai suatu yang baru tentunya diperlukan pengetahuan tambahan, untuk itu Hary mengikuti Training mengenai Sales Systems dalam bidang Property/Real Estate.

Dengan mengandalkan networking yang dibangunnya dengan instansi Pemerintah maupun swasta dan presentasi-presentasi yang dilakukan, Hary bersama teamnya berhasil meningkatkan penjualan di perusahaan tempatnya bekerja.

Namun pekerjaan ini hanya dijalaninya selama 3 bulan (Maret 1997 – Mei 1997), karena dirasakan oleh Hary kurang pas dengan backgroundnya, hingga akhirnya dia pindah bekerja pada sebuah anak Perusahaan yang cukup ternama, bergerak dalam bidang Informasi & Technology (PT. PANSYSTEMS) Hary diterima bekerja sebagai Satf Keuangan, tanpa kendala yang berarti, segala pekerjaan yang dibebankan dapat diselesaikan dengan baik, mengingat banyak kemiripan dengan pekerjaan sebelumnya ketika di KBRI Harare. Berkat kerjasama yang baik dengan tim penjualan Hary memperoleh penghargaan dari Pimpinan perusahaan, kinerja yang baik ini juga memberikan kesempatan kepadanya untuk mengikuti pendidikan tambahan yang dibiayai perusahaan untuk lebih memperdalam pengetahuannya dalam bidang akuntansi yang erat kaitanya dengan keuangan, selain dari pada itu untuk mengisi kekosongan formasi oleh Pimpinan perusahaan ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Manajer Keuangan, dengan jabatan ini Hary dipercaya untuk menandatangi cek dan kertas berharga lainnya bersama-sama dengan Direktur Utama (Joint Account), selain itu bertanggung jawab untuk masalah keuangan, Bimbingan dan arahan dari Pimpinan membuat Hary semakin memahami pekerjaannya, sebelum sempat dipromosikan menduduki Jabatan Manager Keuangan, pada bulan Pebruari 2004 Hary mengundurkan diri dari pekerjaannya karena mendapat pekerjaan baru.

.

Pada bulan Maret 2004 Hary pindah bekerja pada Perwakilan RI di Tripoli, sebagai Staf Keuangan

Berkat pengabdiannya selama bekerja di Perwakilan Republik Indonesia selama 15 tahun, Hary memperoleh penghargaan dari Menteri Luar Negeri pada bulan Agustus 2008.

Selama bekerja di KBRI Hary memiliki berbagai pengalaman penugasan ke Negara-negara diantaranya :

  • Namibia, sebagai staff perbantuan di KBRI Windhoek (Mei 1990 – Juli 1990);
  • Mozambique, advance team koordinasi dengan protokol Kemlu mengenai rencana penyerahan surat kepercayaan Dubes baru (1994);
  • South Africa, menghadiri Penataran UYHD utk Perwakilan kawasan Afrika Tengah dan Selatan di KJRI Cape Town (September 1995);
  • Mozambique, mendata WNI untuk keperluan Pemilu di Quilimane (Januari 1996);
  • Tunisia, tugas kurir ke STB Bank Tunis (Januari 2005);
  • Tunisia, tugas kurir ke STB Bank Tunis (Juli 2005);
  • Tunisia, tugas kurir ke STB Bank Tunis (Oktober 2006);
  • Slovakia, menghadiri Sosialisasi RKA-KL, Pelaksanaan DIPA di KBRI Bratislava (Desember 2006);
  • Ukraina, menghadiri Sosialisasi SIMKEU IV+ AMD di KBRI Kyiev (Maret 2007);
  • Inggris, tugas kurir ke Bank Mandiri London (Maret 2008);
  • Inggris, tugas kurir ke Bank Mandiri London (April 2008);
  • Mesir, menghadiri Sosialisasi Keuangan dan JFD di KBRI Kairo (Desember 2008);
  • Saudi Arabia, menghadiri Bimtek SAKPA dan Sosialisasi SIMKEU Real Time di KJRI Jeddah ( Agustus 2009).

Hary juga memiliki pengalaman persidangan dan kepanitiaan diantaranya :

  • Anggota Delegasi Konperensi Menteri-Menteri Penerangan Negara Non Blok (COMINAC II) di Harare (Juni 1987);
  • Anggota Delegasi RI pada Ministerial Meeting of the Co-ordinating Bureau of Non-Aligned Countries di Harare (Mei 1989);
  • Anggota Delegasi RI pada Konperensi Commission on Human Settlements Thirteenth Session di Harare (Mei 1991);
  • Angota Panitia kunjungan kenegaraan Presiden RI (Desember 1991);
  • Angota Panitia pada Rakor para Kepala Perwakilan RI se Afrika Barat, Timur dan Selatan di Harare (Nopember 1995);
  • Anggota Panitia Pameran & Property, di JHCC, Jakarta (April 1997)
  • Anggota Panitia Pameran INDOCOMTECH, di JHCC, Jakarta (Maret 2002)

Kepengurusan dalam organisasi

· Bendahara KORPRI Sub Unit KBRI Harare (Jan 1987 – Juni 1990)

· Anggota PPSLN KBRI Harare (1996)

· Anggota Pengurus PANS CLUB PT. Pansystems (2002 – 2004)

· Anggota KPPSLN KBRI Tripoli (2004)

· Anggota KPPSLN KBRI Tripoli (2008)

· Anggota Pengurus PCI-NU Libya

Lain – lain :

  • Menguasai Komputer Program MS Office : Excell, Word, Accesss, Power Point & Outlook Express;
  • Mengoperasikan / mencari data melalui internet;
  • Menguasai Program Komputer Akuntansi : ACCT, ACCPAC;
  • Menguasai Program SIMKEU Versi III, IV, IV Plus, IV Plus AMD dan Real Time, versi Biro Keuangan Deplu;
  • Menguasai Program SAKPA dan SABMN versi Departemen Keuangan;
  • Mengetik dengan kecepatan 40 kpm
  • Mengemudikan kendaraan

Hary menikah dengan Dwi Yuliani pada tahun 1992 dikaruniai 3 orang anak : Dessy Putri Haryani, Risky Pradika Anhar dan Muhammad Al-Faiz.(alm).

16 Februari 2010

TERPESONA MELIHAT KA'BAH


SUBHANALLAH. Tergagap. Ka’bah di depan mata.. Ya, Ka’bah. Gambar yang sangat sering ditatap, dirindukan, dan dimimpikan. Kini, bukan mimpi. Bukan gambar. Ini nyata. Baitullah. Bangunan pertama di dunia. Di Tanah asal muasal diri. Rumah Allah di dunia.

Ya, Allah. Selama ini hamba merasa kuat. Kau berkati panca indera, daya pikir, daya ingat. Hilang. Terpana. Terpesona. Diam. Seluruh bagian raga stop. Detak jantung tak berasa. Duh, Baitullah yang hamba rindu-rindukan. Melihatnya. Langsung. Asli. Subhanallah. Tersadar. Segera membuka ‘buku gantungan’, membaca doa. Sungguh ya Allah, inilah pengalaman pertama. Terima kasih ya Allah.

Alloohumma zid baitaka haadzaa taksyiy-riifan wata’zhiman, watakriiman wabirron wamahaabatan; Ya Allah tambahkanlah Baitullah ini kemulyaan, keagungan, kebaikan, dan kewibawaan.


Aduh, Ka’bah berselimut kiswah bertulisan benang emas yang disulam khusus; Allah Jalla Jalalah, la ilaha illallah, Muhammad Rasulullah. Allah Maha Agung, tiada Tuhan selain Allah, Muhammad Pesuruh Allah.

Ya Ka’bah yang dibangun Malaikat, dua ribu tahun sebelum Nabi Adam Diciptakan. Ka’bah tempat tawaf para Malaikat di bumi. Tempat tawaf Nabi Adam sampai ummat Nabi Muhammad SAW. Ka’bah bukan sembarang bangunan, bukan saja bangunan pertama di dunia, tetapi tempat paling terpilih, Rumah Allah, Baitullah. Ya, Baitullah yang telah mengalami perbaikan 10 kali.

Ya, sejak pembangunan (rehabiltasi) keempat oleh Nabi Ibrahim sampai generasi pembangunan ke 10, sebagimana kita kenal, itulah bangunan paling dirindukan manusia di muka Bumi. Jutaan orang silih berganti, apalagi kalau menunaikan umrah, dan mencapai puncaknya pada ibadah haji. Bayangkan, lebih 2 (dua) juta manusia mendatangi makam Nabi Ibrahim untuk menunaikan kewajiban Muslimnya. Kini, seorang anak kampung, Hary Sudarmanto, berdiri terpesona menatap keberadaan dan keajaiban Ka’bah, sesuatu yang dirindukan puluhan tahun.

Aku tidak tahu lagi, jujur saja, tidak merasakan apa-apa dalam artian terharu atau gimana gitu. Mungkin, lebih tinggi dari itu. Atau, memang tidak merasakan nikmat melihat Ka’bah? Tidak meneteskan air mata haru?. Entahlah. Terpana, terpesona di hadapan Ka’bah.

Begitu kah orang terpana, terpesona? Tidak juga, kali. Ketika pertama kali melihat calon isteri, dulu terpesona, tapi sekelabat. Kini, berlama-lama. Tidak mampu mengendalikan diri. Subhanallah. Pasti sudah, kalau ditanya bagaimana melihat Ka’bah (pertama kali) susah mendeskripsikannya. Kalau orang lain mungkin punya haru yang lain.

Yang jelas, puluhan tahun merindukan Ka’bah baru kini terpenuhi. Dan, tiba-tiba penuntun umrah menyadarkan, waktunya tawaf. Aku pandangi lagi Ka’bah, dan Bismillah, kaki dilangkahkan melalui anak tangga. Di hamparan marmar lantai memutar Ka’bah, shalat. Pikiran dan perasaan baru terkendali. Seselesai itu kembali memandangi Ka’bah sampai disadarkan penuntut, beranjak ke ‘lampu hijau’ sejajaran awal tawaf. Kami mengambil posisi. Dan, Allahu Akbar.

Kemudian kami mencari tempat untuk bergabung dengan jamaah lainnya melaksanakan sholat Ashar. Kami mengambil posisi sholat di tempat yang berhadapan dengan pintu Ka'bah dan Al Multazam Dan, Allahu Akbar, selesai sholat selama berdo'a didepan Ka'bah air mataku jatuh bercucuran tanpa dapat ditahan. Perasaanku terharu, terharu karena mendapat kesempatan untuk melaksanaklan Sholat benar-benar dihadapan Ka'bah. Aku bersyukur akhirnya tertunai juga hajjat aku untuk sampai dan melaksanakan sholat di rumah suci Allah ini.
Pak Adam mengajak kami menuju tempat permulaannya Tawaf, kami pun berniat dan mulai melakukan tawaf, dalam keadaan berhimpit-himpit putaran demi putaran kami lakukan tanpa rasa penat. Terasa nikmatnya dapat beribadah mengelilingi Ka'bah bersama ribuan jemaah berbagai bangsa. Terdapat rombongan jemaah dari negara lain yang bertawaf di pimpin oleh ketua masing-masing..
“Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kehormatan dan wibawa kepada Baitullah, Kabah ini. Dan tambahkanlah pula pada orang-orang yang memuliakan, mengagungkan dan menghormatinya di antara mereka yang berhaji atau berumrah dengan kemuliaan, keagungan, kehormatan dan kebaikan.”
Pak Adam memimpin dengan doa demi doa, setiap putaran yang dibaca mulai dari Hajar Aswad sampai Rukun Yamani. Semuanya harus tujuh putaran. Setiap kali melintasi Rukun Yamani, kita disunahkan mengangkat tangan dan melambaikannya seraya berseru; “Bismillahi wallahu akbar!”
Di antara Rukun Yamani dengan Hajar aswad kita membaca; “Robbana atina fiddunya hasanatun wafilakhirati hasanatanwaqina azabannar….”
Ini biasa disebut juga sebagai doa sapujagat. Dan bila kita tak bisa mendengar doa muthowif, sepanjang tawaf tidak mengapa jika hanya menggumamkan doa sapujagat ini. Bahkan doa apapun, doa yang isinya kita pahami. Sungguh Allah Maha Tahu, apa yang kita ingini!
Kami melakukan tawaf di bawah tanpa banyak rintangan. Diusahakan untuk melakukan sholat dua rakaat di Maqom Ibrahim dan Hijir Ismail. Namun, sekali ini, sungguh tak memungkinkan mencapai kedua tempat tersebut. Bahkan Hijir Ismail, entah sejak kapan, sudah dinyatakan tertutup, dijaga oleh para askar. Akhirnya kami sholat dan berdoa khusuk di depan Multazam.
Di sini kulihat hampir semua jamaah mencucurkan air matanya. Mereka sama menyampaikan doa, harapan dan keinginan masing-masing. Maka, selain kusampaikan doa pribadiku, tak lupa kusampaikan doa titipan anak-anak, menantu, ibu dan saudara-saudaraku, para tetangga, sahabat, handai-taulan…
Kemudian melanjutkan ibadah dengan sai. Kami mengawalinya di lantai atas, bukit Safa hingga bukit Marwah. Anda jangan membayangkan ada dua bukit sesungguhnya di areal Masjidil Haram ini, seperti sering dibayangkan oleh orang yang belum pernah berhaji. Demikian pula yang terpeta di benakku sebelum umrah. Nah, kedua tempat yang dimaksud hanyalah berupa gugusan ubin lebih tinggi dibanding lantai di bawahnya.
Sesungguhnya jika tidak disertai gelombang manusia, niscaya kita akan bisa melakukan lari-lari kecil dengan santai. Ini tempat yang nyaman dengan atap yang melindungi kepada kita dari sengatan matahari, bahkan dipasangi AC di berbagai sudut. Sungguh tidak sama situasinya tatkala Siti Hajar dahulu melakoni semua di tempat yang sama.
“Ini simbol perjuangan seorang ibu, Siti Hajar yang berlari-lari mencair air untuk bayinya, Ismail, antara bukit Safa dengan bukit Marwah,” suara muthowif Adam terdengar di antara suara-suara dan doa-doa jamaah lainnya.
Suasana di sini tampak semakin crowded.
Manusia begitu melimpah-ruah, bagaikan gelombang yang silih berganti menggulung-gulung dari segala penjuru mata angin. Untuk mencapai satu kali putaran pun dibutuhkan tenaga ekstra, termasuk kesabaran yang pantang ada putusnya itu.
“Bagaimana keadaan di atas sana?” tanyaku ingin tahu kepada seorang muthowif yang baru kembali dari lantai dua.
“Wuaaah… Mas, Lihat tuh, coba aja tengadah ke atas sana, Mangkin crowded!”
“Nah kan? Crowded yah… rasanya makin sering aja nih istilah kudengar,” komentarku menahan tawa, dan kembali berusaha fokus menyelesaikan putaran demi putaran.
Beberapa jamaah yang melintas di sebelah-menyebelahku, sempat kucermati. Aneh sekali, rasanya banyak pasangan jamaah belia, terutama yang bertampang Arab pakistan. Karena penasaran, beberapa sempat kutanya juga dalam bahasa Inggrisku yang hancur. Benar, 17 dan prianya 18-an.
“Ya Allah, hamba mohon, berilah kesempatan kepada anak-anak dan istriku, limpahilah rezeki-Mu….Undanglah mereka menjadi tamu-Mu, ya Rabb,” gumamku sambil berderai air mata.
Setelah selesai melakukan tawaf kami mencari tempat untuk melakukan sholat sunat tawaf sebelum mengerjakan Sai di belakang maqom Ibrahim. Selanjutnya kami menuju\j ketempat Sai yang terletak didalam kawasan Masjidil Haram. Bermula dari Bukit Safa kami berniat dan menuju ke Bukit Marwah. Semangat rasanya di hati dapat beribadah bersama-sama umat Islam berbagai bangsa.
Diawal putaran kami melangkah dengan penuh semangat, hingga beberapa putaran, karena udara panas ditambah lagi berpuasa membuat tenggorokan mulai terasa kering, aku coba untuk tetap bersemangat, karena tidak tahan akhirnya Pak Adam pemandu kami , mengajak berhenti sebentar untuk mengambil air zam-zam, akupun mengikutinya, aku pun mengambil beberapa gelas untuk membasuh muka dan terasa sejuknya begitu menyiramkan air zam-zam kekepala aku, hingga pakaian basah kuyup bermandikan air zam-zam. Barulah reda rasa dahaga dan panas di badanku sehingga dapat melanjutkan putaran-putran berikutnya.
Setelah selesai tujuh putaran kami pun menggunting rambut (tahalul) sebagai penyempurnaan Umroh kami.
Alhamdulillah, akhirnya ibadah Ummroh kami selesai pada sore itu.
Sehabis buka dan Sholat Maghrib aku bersiap-sipa untuk meninggalkan Mekkah dengan menyewa taxi dengan bayaran 15 Riyal per orang.
Selama taxi bergerak perlahan melintasi Masjidil Haram, aku menoleh melihat Masjidil Haram untuk yang terakhir kalinya hingga hilang dari pandangan aku. Hati terasa amat sedih meninggalkan Baitullah rumah suci Allah. Kapankah aku mempunyai kesempatan ke sini lagi ?
Tidak banyak yang dapat aku ceritakan tentang Mekkah, karena keterbatasan waktu dalam kunjungan kali ini.
Insya Allah jika ada rezeki dan kesehatan mengijinkan pasti aku akan datang lagi
Dihari yg ke-4 selama mengikuti Sosialisasi di Jeddah, aku mendapat peluang sekali lagi mengerjakan Umroh bersama rombongan peserta Sosilisasi dengan menggunakan bis yang disediakan oleh pihak KJRI Jeddah, Selepas buka bersama dan sholat Maghrib kami bergegas kembali ke Wisnu untuk melakukan persiapan, menjelang waktu Sholat Isya kami berangkat, Ibadah umroh kedua ini dilaksanakan malam hari hingga menjelang masuknya waktu Imsak.
Aku mempunyai pengalaman yang menarik ketika melaksanakan umrah kali pertamanya, Salah satunya tubuh aku merinding dan terahru ketika melihat Kakbah.
Melaksanakan Umrah ke Tanah Suci merupakan suatu pengalaman berharga dan menarik bagi semua orang. Bahkan ada pula yang ingin kembali untuk melaksanakan haji kecil tersebut. Seperti halnya aku yang berniat untuk kembali ke Tanah Suci untuk melaksanakan Umrah. Setibanya di Tanah Suci aku merasa terharu dan bahagia karena dapat menjadi tamu AllahSWT, aku sempat tidak percaya ketika dapat menatap langsung Masjidilharam.
Saat tiba di Tanah Suci, subhanallah senangnya aku bersyukur sekali masih diberik kesempatan untuk mengunjungi rumah Allah SWT, bahkan dengan rasa haru saat pertama kali melihat Kabah. Serta merasakan kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan.
Selama ini aku melhat kemegahan Masjidilharam hanya melalui foto, poster, dan televisi. Setelah melihat Kakbah di depan mata, aku langsung mengucapkan Alhamdulillah. Kini aku telah menginjakkan kaki di tempat yang mulia itu.
Pada umumnya banyak para jemaah yang melaksanakan ibadah haji dan umrah yang mengalami kendala selama berada di Tanah Suci, Makkah. Namun bagi aku sama sekali tidak mengalami kesulitan, selalu mendapatkan kemudahan selama di Mekkah tidak seperti apa yang dibayangkan sebelumnya, semua prores ibadah berjalan lancar . Bahkan sejak awal aku sama sekali tidak takut adanya pengalaman buruk karena aku selalu beristighfar.
Satu hal yang perlu disyukuri, yang namanya minuman dan makanan untuk berbuka puasa di Mekkah berkah sekali selain di Masjidilharam banyak para dermawan yang membagikan makanan minuman disetiap jalan-jalan secara gratis.

Wisma Nusantara, Jeddah, 31 Agustus 2008.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar