KATA PENGANTAR

Ide untuk menulis blog ini datang ketika suatu hari aku melihat-lihat kembali album-album foto keluarga waktu kami berdomisili di Harare, Zimbabwe. Ketika itu anak-anak masih kecili-kecil, sekarang ketika mereka sudah beranjak dewasa, mereka pun banyak bertanya pada saat kami membenahi foto-foto ini, aku langsung sadar bahwa foto ini banyak memiliki kenangan dan mengisahkan pengalaman dan perjalanan hidup aku.

Negeri adalah lokasi yang terasa oleh semua panca indera kita. Saat kaki mulai menapak di suatu tempat, maka semua indera kita merasakan apapun yang bisa dilumat, diserap, dicerna dan dinikmati. Semua dapat direkam oleh otak, kamera dijital, perekam video, untuk kemudian dikeluarkan kelak dalam sebuah cerita perjalanan. Mulut dapat berbicara tentang segala yang telah dirasa, tangan dapat menuliskan semua keasyikan pengalaman yang ada. aku menjadi terinspirasi untuk menulis Otobiografi (pengalamanku ini) yang biasanya hanya ditulis orang terkenal,

Malam ini aku mencoba membongkar-bongkar memori ku yang mengendap dalam kepingan peristiwa kurang lebih 20 tahun yang lalu, yakni permulaan tahun 1987. Tahun itu merupakan awal aku bekerja, sekaligus tahun pertama mengenal Negara lain. Ketika kepingan peristiwa itu berkelebat, aku pun tersenyum simpul, mengenang peristiwa yang telah terjadi 20 tahun yang lalu itu. Ya banyak peristiwa-peristiwa yang telah aku lalui diantaranya ketika saat pertama kali aku naik pesawat dan pergi ke luar negeri.

Tidak terasa waktu ini berjalan sangat cepat rasanya, masih teringat dulu waktu masih balita, kedua orang tua sering mengajak aku jalan2 ke taman remaja (sebelahnya Hi-tech Mall) untuk mencari hiburan di sana supaya aku bisa bersenang-senang, trus waktu beranjak, dari TK, SD, SMP, SMA sayang aku tidak bisa menikmati masa-masa kuliah, dan sekarang sudah lebih dari 25 tahun aku meninggalkan bangku SMA itu dengan masa-masa yang indah. Perjalanan hidup itu banyak sekali lika likunya dan dilalui kadang suka tapi juga tidak sedikit merasakan duka pahitnya hidup ini. Tapi bagaimanapun itu puji syukur kehadirat Illa hi Robbi semua bisa dilalui dengan sebagaimana mestinya.

Terus terang saja aku bukan orang yang pintar menulis, bahkan jauh dari pintar. Semalaman bisa jadi aku merangkai kata-kata, akan tetapi hasilnya bisa jadi hanya sebuah tulisan yang jauh dari bagus yang akhirnya aku corat-coret sendiri "Hhh … menulis itu memang tidak mudah.!" Begitu kata aku berapologi",

.Tulisan aku ini mungkin tidak merupakan kenangan yang indah bagi orang lain. Tapi, bagi aku ini merupakan semacam "memorabilia" artinya suatu peristiwa yang patut dikenang. bertujuan sebagai suatu memori berupa episode hidup seorang yang bernama Hary Sudarmanto.

Sekali aku memang bukan seorang yang pintar menulis, maka pembaca tidak akan dapati tulisan yang bagus dalam buku ini. Akan tetapi aku yakin, suatu saat tulisan aku pasti bagus. Kapan itu ? aku tidak tahu. Ya "asal berani mencoba".

Aku berharap buku ini dapat bermanfaat bagi anak-anakku, kerabat dan teman-teman.

Sekecil apapun yang kita lakukan tetap saja punya arti.

selamat membaca …… !!!!

MENGENAI PENULIS

Hary Sudarmanto lahir di Jakarta tanggal 12 Juni 1965, dari pasangan R.Darwono dan R.A. Sutirahayu, sejak kecil sampai usia 21 tahun, Hary mengikuti orang tuanya yang tinggal di Jakarta, Hary sempat mengenyam pendidikan SD di SDN Cawang Timur Pagi (1971 – 1974) SD Negeri Cipinang Cempedak 09 Pagi (1975 – 1977), SMP Negeri 80 Halim P.K (1978 – 1981).dan SMA Negeri 39 Cijantung, (1981 – 1984) lulus pada usia 19 tahun.



Pengalaman bekerjanya dimulai tahun 1987, pada usia 21 tahun, ketika Hary menjadi Local Staff Sub Bagian Administrasi di Kedutaan Besar RI di Harare, Zimbabwe. Dilingkungan KBRI dia dikenal dengan nama panggilan Toto.

Dengan pendidikannya yang minim Hary berusaha menambah pengetahuan dengan mengikuti berbagai kursus untuk menunjang pekerjaannya sehari-hari, sejak di Harare hingga kini berbagai macam kursus telah diikuti antara lain : English as Foreign Language tahun 1989 di ESB International, Harare, Elementry Word Processing tahun 1990 CCOSA, Harare, Komputer Lotus 1-2-3 dan Word Perfect tahun 1991 Compu Serve, Harare, Beginners Business Communications tahun 1991 Harare Polytechnic, Harare, Introduction to Basic Programming tahun 1992 Sutherland Computer, Harare, Introduction to Dbase III+ tahun 1994 Speciss College, Harare, IATA Ticketing and Reservation tahun 1995 Speciss College di Harare, Akuntansi pada tahun 1998 di Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Manajemen, Jakarta.

Selain dari pada itu Hary juga mengikuti berbagai macam pelatihan, training dan seminar yang berkaitan dengan bidang pekerjaan yang pernah dijalaninya diantaranya :

  • Seminar UYHD diselenggarakan di Konsulat Jenderal RI di Cape Town, Afrika Selatan (September 1995) dengan Nara sumber dari Direktorat Jenderal Anggaran Depkeu dan Biro Keuangan Deplu;
  • Sales Systems dalam Bidang Property/Real Estate diselenggarakan oleh ERA Indonesia di Jakarta (Maret 1997);
  • Sosialisasi Terpadu RKA-KL, Pelaksanaan DIPA dan Jabatan Fungsional Diplomat diselengarakan di Hotel Danube (Kedutaan Besar RI) di Bratislava, Slovakia (Desember 2006) dengan nara sumber dari Bapenas, Ditjen Anggaran Depkeu dan Biro Perencanaan dan Organisasi Deplu;
  • Sosialisasi dan Bimetk Sistim Informasi Manajemen Keuangan SIMKEU IV +1 AMD diselenggarakan di Hotel President (Kedutaan Besar RI) di Kyiev, Ukraina (Maret 2007);
  • Pelatihan Sistem Akuntansi Barang Milik Negara (SABMN) diselenggarakan di Hotel Sheraton Media, Jakarta (Mei 2008);
  • Sosialisasi Terpadu Keuangan dan Jabatan Fungsional Diplomat diselenggarakan di Kedutaan Besar RI Kairo, Mesir (Desember 2008) dengan nara sumber Bapenas, BPK dan Biro Keuangan, Deplu;
  • Bimtek Sistem Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (SAKPA) dan Sosialisasi Sistem Informasi Manajemen Keuangan Real Time diselenggarakan di Konsulat Jenderal RI di Jeddah (Agustus 2009) nara sumber Ditjen Depkeu, Bagian Verifikasi Biro Keuangan, Deplu.

Berbagai pengalaman kerjapun didapatnya sejak mulai dari KBRI Harare pada tahun 1987 hingga terakhir dia dipercaya sebagai Staf Keuangan pada Kedutaan Besar RI di Tripoli, Libya.

Diawali pada bulan Januari 1987 hingga bulan Agustus 1996, Hary mulai bekerja sebagai Pegawai Setempat (Local Staff) pada Kedutaan Besar R.I. di Harare, Zimbabwe, sebagai staff Administrasi Umum dipercaya untuk melaksanakan tugas-tugas guna menunjang aktivitas Kantor Perwakilan yang baru dibuka, Hary mengerjakanya dengan penuh semangat, dan saling bekerja sama sehingga lambat laun menjadikannya seorang yang professional dibidangnya.

Sebagai Staff Administrasi Hary pada mulanya hanya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya ringan diantaranya memelihara, menjaga dan menyimpan file-file yang berhubungan dengan masalah keuangan, membuat payroll gaji Home Staff dan Local Staff, Tunjangan Sewa Rumah, mengetik Surat-surat dinas, yang dijalani selama kurun waktu 3 tahun lamanya. Dengan adanya pergantian pimpinan, oleh pimpinan yang baru, Hary mendapat tugas untuk jenis pekerjaan yang lebih berat, yang selama ini belum pernah diketahui maupun dipelajari, namun berkat kegigihannya dan mempelajarinya secara otodidak ia dapat mengerjakan seluruh tugas-tugas yang telah didelegasikan oleh pimpinannya, atas kecakapannya pimpinan memberikan kepercayaan kepada Hary sebagai Operator Komputer untuk Sistim Informasi Keuangan sekaligus kepadanya dipercaya untuk menjabat sebagai Kasir, sebuah jabatan yang memilik tanggung jawab besar dan termasuk paling tinggi di kalangan sesama Local Staff.

Hary juga dipercaya oleh Pimpinan untuk membantu tugas-tugas dibidang keprotokolan dan telah berhasil membangun networking yang baik dengan instansi Pemerintah maupun swasta setempat yang sangat dirasakan manfaatnya oleh KBRI Harare.

Dengan kecakapan seperti tersebut diatas, atas rekomendasi dari Pimpinan KBRI Harare, pada bulan Mei 1990 Hary diperbantukan kepada Advance Team untuk membuka Kantor Perwakilan RI di Windhoek untuk menyelesaikan pekerjaan Pertanggung Jawaban Keuangan dan Administrasi lainnya selama kurang lebih 1 bulan.

Pekerjaan ini dijalaninya hingga Mei 1996, pada bulan Juni 1996 Hary di rotasi sebagai Staf Bidang Politik untuk membantu tugas-tugas Kepala Bidang Politik dalam membina hubungan diplomatik antar kedua negara, memonitor perkembangan politik dalam negeri Zimbabwe, yang besar pengaruhnya terhadap kepentingan NKRI. Pekerjaan ini dijalaninya selama kurang lebih 3 bulan hingga akhirnya mengundurkan diri pada bulan Agustus 1996.

Dengan pengalaman kerja yang didapat di Zimbabwe, selama ini membuat Hary optimis untuk mendapatkan pekerjaan baru di kampung halamannya sendiri, berbagai lamaran dikirimkan ke berbagai perusahaan, Hary ingin mencari suasana baru, karena timbul kejenuhan setelah sekian lama bekerja dilingkukangan birokrasi pemerintahan.

Sebuah tantangan baru dihadapi oleh Hary ketika dia diterima bekerja sebagai Marketting Executive di sebuah perusahaan Developer (PT. MASA KREASI), jelas ini bertentangan dengan pengalamannya yang lebih banyak berkecimpung di bidang Administrasi dan keuangan.

Sebuah tugas dibebankan kepadanya untuk melaksanakan kebijakan, prosedur dan program penjualan perumahan, mengembangkan dan mengimplementasikan strategi dan aktivitas penjualan, memimpin dan mengkoordinir tim Penjualan dan Pemasaran. Sebagai suatu yang baru tentunya diperlukan pengetahuan tambahan, untuk itu Hary mengikuti Training mengenai Sales Systems dalam bidang Property/Real Estate.

Dengan mengandalkan networking yang dibangunnya dengan instansi Pemerintah maupun swasta dan presentasi-presentasi yang dilakukan, Hary bersama teamnya berhasil meningkatkan penjualan di perusahaan tempatnya bekerja.

Namun pekerjaan ini hanya dijalaninya selama 3 bulan (Maret 1997 – Mei 1997), karena dirasakan oleh Hary kurang pas dengan backgroundnya, hingga akhirnya dia pindah bekerja pada sebuah anak Perusahaan yang cukup ternama, bergerak dalam bidang Informasi & Technology (PT. PANSYSTEMS) Hary diterima bekerja sebagai Satf Keuangan, tanpa kendala yang berarti, segala pekerjaan yang dibebankan dapat diselesaikan dengan baik, mengingat banyak kemiripan dengan pekerjaan sebelumnya ketika di KBRI Harare. Berkat kerjasama yang baik dengan tim penjualan Hary memperoleh penghargaan dari Pimpinan perusahaan, kinerja yang baik ini juga memberikan kesempatan kepadanya untuk mengikuti pendidikan tambahan yang dibiayai perusahaan untuk lebih memperdalam pengetahuannya dalam bidang akuntansi yang erat kaitanya dengan keuangan, selain dari pada itu untuk mengisi kekosongan formasi oleh Pimpinan perusahaan ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Manajer Keuangan, dengan jabatan ini Hary dipercaya untuk menandatangi cek dan kertas berharga lainnya bersama-sama dengan Direktur Utama (Joint Account), selain itu bertanggung jawab untuk masalah keuangan, Bimbingan dan arahan dari Pimpinan membuat Hary semakin memahami pekerjaannya, sebelum sempat dipromosikan menduduki Jabatan Manager Keuangan, pada bulan Pebruari 2004 Hary mengundurkan diri dari pekerjaannya karena mendapat pekerjaan baru.

.

Pada bulan Maret 2004 Hary pindah bekerja pada Perwakilan RI di Tripoli, sebagai Staf Keuangan

Berkat pengabdiannya selama bekerja di Perwakilan Republik Indonesia selama 15 tahun, Hary memperoleh penghargaan dari Menteri Luar Negeri pada bulan Agustus 2008.

Selama bekerja di KBRI Hary memiliki berbagai pengalaman penugasan ke Negara-negara diantaranya :

  • Namibia, sebagai staff perbantuan di KBRI Windhoek (Mei 1990 – Juli 1990);
  • Mozambique, advance team koordinasi dengan protokol Kemlu mengenai rencana penyerahan surat kepercayaan Dubes baru (1994);
  • South Africa, menghadiri Penataran UYHD utk Perwakilan kawasan Afrika Tengah dan Selatan di KJRI Cape Town (September 1995);
  • Mozambique, mendata WNI untuk keperluan Pemilu di Quilimane (Januari 1996);
  • Tunisia, tugas kurir ke STB Bank Tunis (Januari 2005);
  • Tunisia, tugas kurir ke STB Bank Tunis (Juli 2005);
  • Tunisia, tugas kurir ke STB Bank Tunis (Oktober 2006);
  • Slovakia, menghadiri Sosialisasi RKA-KL, Pelaksanaan DIPA di KBRI Bratislava (Desember 2006);
  • Ukraina, menghadiri Sosialisasi SIMKEU IV+ AMD di KBRI Kyiev (Maret 2007);
  • Inggris, tugas kurir ke Bank Mandiri London (Maret 2008);
  • Inggris, tugas kurir ke Bank Mandiri London (April 2008);
  • Mesir, menghadiri Sosialisasi Keuangan dan JFD di KBRI Kairo (Desember 2008);
  • Saudi Arabia, menghadiri Bimtek SAKPA dan Sosialisasi SIMKEU Real Time di KJRI Jeddah ( Agustus 2009).

Hary juga memiliki pengalaman persidangan dan kepanitiaan diantaranya :

  • Anggota Delegasi Konperensi Menteri-Menteri Penerangan Negara Non Blok (COMINAC II) di Harare (Juni 1987);
  • Anggota Delegasi RI pada Ministerial Meeting of the Co-ordinating Bureau of Non-Aligned Countries di Harare (Mei 1989);
  • Anggota Delegasi RI pada Konperensi Commission on Human Settlements Thirteenth Session di Harare (Mei 1991);
  • Angota Panitia kunjungan kenegaraan Presiden RI (Desember 1991);
  • Angota Panitia pada Rakor para Kepala Perwakilan RI se Afrika Barat, Timur dan Selatan di Harare (Nopember 1995);
  • Anggota Panitia Pameran & Property, di JHCC, Jakarta (April 1997)
  • Anggota Panitia Pameran INDOCOMTECH, di JHCC, Jakarta (Maret 2002)

Kepengurusan dalam organisasi

· Bendahara KORPRI Sub Unit KBRI Harare (Jan 1987 – Juni 1990)

· Anggota PPSLN KBRI Harare (1996)

· Anggota Pengurus PANS CLUB PT. Pansystems (2002 – 2004)

· Anggota KPPSLN KBRI Tripoli (2004)

· Anggota KPPSLN KBRI Tripoli (2008)

· Anggota Pengurus PCI-NU Libya

Lain – lain :

  • Menguasai Komputer Program MS Office : Excell, Word, Accesss, Power Point & Outlook Express;
  • Mengoperasikan / mencari data melalui internet;
  • Menguasai Program Komputer Akuntansi : ACCT, ACCPAC;
  • Menguasai Program SIMKEU Versi III, IV, IV Plus, IV Plus AMD dan Real Time, versi Biro Keuangan Deplu;
  • Menguasai Program SAKPA dan SABMN versi Departemen Keuangan;
  • Mengetik dengan kecepatan 40 kpm
  • Mengemudikan kendaraan

Hary menikah dengan Dwi Yuliani pada tahun 1992 dikaruniai 3 orang anak : Dessy Putri Haryani, Risky Pradika Anhar dan Muhammad Al-Faiz.(alm).

16 Februari 2010

DENPASAR MOON


Judul sebuah lagu yang mengingatkan kita akan sebuah pulau yang sangat di kenal di seluruh dunia. Aku jadi teringat ketika masa-masa awal di Zimbabwe, masyarakat disana kebanyakan belum begitu mengenal Indonesia, dan sudah menjadi kewajiban sebagai pegawai Kedutaan untuk mempromosikan pariwisata dan budaya Indonesia, untuk itu berbagai informasi pun dicari untuk dapat memberi penjelasan kepada masyarakat Zimbabwe yang membutuhkan termasuk diantaranya Pulau Bali yang cukup terkenal di manca negara, yang lebih terkenal dari pada Negara Indonesia itu sendiri, ada beberapa teman yang sempat bertanya kepada aku : "Indonesia itu disebelah mananya BalI..?". Sejak itu berbekal informasi yang didapat dari berbagai sumber aku sering mempromosikan Bali ini sebagai salah satu Obyek wisata yang paling favorit, yang lucunya aku sendiri belum pernah mengunjungi pulau Bali, namun dengan gaya seorang Marketing berusaha merayu para wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia, dengan menjual Bali sebagai iming-imingnya.
Berkat kehendaknya sore ini aku menginjakkan kaki di Bandara Internasional Ngurah Rai Denpasar, kedatangan aku dan rombongan disambut oleh kalungan bunga kamboja oleh gadis bali yang manis, kemudian oleh pemandu Wisata kami diminta untuk menaiki bus Pariwisata.
Tujuan wisata pertama yang kami kunjungi hari itu adalah Uluwatu. Dari Bandara perjalanan sekitar 1 jam, sampai di Uluwatu sekitar jam 18.00. Yang istimewa dari tempat ini adalah lokasinya yang berada disebuah bukit dan beberapa ratus meter di bawah tampak pantai dengan ombak yang cukup besar. Di salah satu sisi bukit terdapat semacam pura. Sementara disalah satu sisi lainnya terdapat panggung tari.
Saat kami tiba di Uluwatu matahari mulai perlahan tenggelam di ufuk barat, pertunjukkan tari kecakpun dimulai sambil menikmati indahnya sunset, kami menyaksikan ratusan penari membentuk sebuah lingkaran bersiap siap melakukan pementasan tari bali yang terkenal hingga ke manca negara, yaitu tari kecak merupakan sebuah drama tari Bali yang penarinya berkisar antara 50 sampai 150 orang penari yang sebagian besar adalah pria, mereka menari denagn membuat paduan suara, "cak, cak, cak" yang iramanya ditata sedemikian rupa, sehingga menghasilkan suatu paduan yang sangat harmonis, diselingi dengan beberapa aksen dan ucapan-ucapan lainnya.
Cerita dalam tari kecak mengambil lakon Ramayana dengan beberapa tokoh pewayangan yang terkenal seperti Rama, Sinta, Hanoman dan Rahwana yang berperan sebagia tokoh antagonis.
Tempat ini juga banyak monyetnya. Monyet di uluwatu ini usil banget mereke kerap merebut kacamata, topi, tas maupun HP pengunjung.
Sebelum beranjak kembali ke Bus, kami menunggu sunset. Sekitar jam 18.30 sunset pun muncul di ufuk barat indah sekali.
Uluwatu yang terletak diujung selatan pulau Bali dan mengarah ke Samudra Hindia, merupakan tempat wisata yang menawan
Setelah selesai menononton pementasan tari kecak kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju kawasan jimbaran untuk makan malam berupa olahan berbagai menu dari hasil laut yang lezat sambil menikmati indahnya malam dan desiran lembut ombak di Pantai Jimbaran.
Selesai makan kami menuju Hotel untuk beristirahat karena keesok hari sudah dijadwalkan untuk mengunjungi beberapa obyek wisata lainnya di Bali,
Hari kedua berada di Pulau Dewata kami dijadwalkan untuk melakukan perjalanan ke Ubud atau Kintamani setelah melewati sanur sampailah kami di Batubulan untuk menyaksikan pertunjukkan tari Barong yang terkenal itu .
Barong Ket atau Barong Keket adalah tari Barong yang paling banyak terdapat di Bali dan paling sering dipentaskan serta memiliki perbendaharaan gerak tari yang lengkap. Dari wujudnya, BarongKet ini merupakan perpaduan antara singa, macan, sapi atau boma. Badan Barong ini dihiasi dengan ukiran-ukiran dibuat dari kulit, di temple kaca cermin yang berkilauan dan bulunya dibuat dari perasok (serat dari daun sejenis tanaman mirip pandan) ijuk atau ada pula dari bulu burung gagak.
Unutk menarikannya Barong ini diusung oleh dua orang penari yang disebut Juru Saluk/Juru Bapang, satu penari dibagiankepala dan yang lainnya di bagian pantat dan ekornya. Tari Barong Keket ini melukiskan tentang pertarungan kebajikan (dharma) dan keburukan (adharma) yang merupakan paduan yang selalu berlawanan (rwa bhineda). Tari BarongKet ini diiringi dengan gamelan Semar Pagulingan.
Dari beberapa sumber, ada yang mengatakan tari ini aslinya berasal dari negeri Tirai Bambu Cina karena menyerupai tarian Barongsai. Tapi yang pasti walau darimana pun aslinya, tidak masalah, karena tariannya sarat akan nilai cerita dan juga diselingi lelucon segar.
Selesai menyaksikan pertunjukkan tari Barong kami melanjutkan perjalan ke Kintamani, tempat ini merupakan tujuan wisata paling favorit bagi wisatawan asing maupun domestic dengan suasana perbukitan yang segar. Daya tarik utama dari kawasan Kintamani adalah pemandangan Gunung dan Danau Batur. Gunung Batur merupakan gunung yang masih berstatus aktif dan tertinggi kedua setelah gunung agung di Besakih. Setibanya ditempat ini di sebuah Resaturant menikmati hidangan santap siang sambil menikmati keindahan danau dan gunung Batur yang menyemburkan asap bersahabat.
Selepas makan siang kami kembali menuju hotel, dalam perjalanan singgah disebuah toko yang menjual oleh-oleh khas bali, pemandu sengaja membawa kami ketempat ini untuk kemudahan, karena ditempat ini kita tidak perlu menawar karena barang di bandrol dengan harga pas. Banyak pernak pernik ditawarkan disitu. Mulai dari gantungan kunci, aksesoris wanita, patung tas, kaos, baju hingga bed cover. Aku hanya sempat membeli beberapa kaos untuk oleh-oleh, karena pengunjungnya begitu padat, jadi kurang nyaman belanjanya. Selain kaos aku tidak lagi menemukan barang yang cocok setelah bayar ke kasir, akupun memilih nunggu rombongan di luar sambil minum soft drink di sebuah depot.
Menjelang malam kami tiba di Hotel, besok pagi-pagi sekali diminta untuk check-out dari hotel karena sesuai jadwal rombongan akan melakukan kunjungan ke Yogyakarta.
Sepertinya belum puas berada di pulau Dewata ini.

SUATU HARI DI GEDUNG PANCASILA


Menjelang siang kami menuju Pejambon untuk menghadiri acara tatap muka dengan Bapak Menteri Luar Negeri bertempat di Gedung Pancasila, sebuah bangunan bersejerah yang terletak di kompleks bangunan gedung Departemen Luar Negeri. Ketika memasuki ruangan aku dan rombongan disambut oleh para Pejabat Eselon 1 & 2 yang sudah hadir terlebih dahulu di tempat acara, diantaranya nampak Bapak Imron Cotan (Sekjen Deplu), Ibu. Dienne (Irjen Deplu), Bapak Priyo Iswanto (Karo Kepegawaian), aku merasa bangga dan terhormat berada diantara para Pejabat Deplu, selang berapa lama Bapak Menlu Hasan Wirayudha hadir, acara segera di mulai dengan sambutan dari Sekjen Deplu, Menlu dan Karo Kepegawaian, dalam sambutannya disampaikan oleh Menlu atas nama Pemerintah mengucapkan terima kasih atas sumbangsih dan kerja sama yang telah diberikan oleh Local Staff didalam mengemban misi diplomasi di Luar Negeri, dilanjutkan dengan acara Tanya jawab dan ramah tamah sambil menikmati hidangan.
Aku masih belum percaya berada di Gedung ini, sambil menicicipi makanan mata aku tak hentinya memandang setiap sudut ruang dari bangunan yang merupakan peninggalan Pemerintahan Hindia Belanda, aku merasa bangga dan terkagum-kagum karena tidak sembarang orang bisa berada di dalam bangunan yang bersejarah ini, tidak juga dengan pegawai Deplu kecuali mereka pejabat senior, konsul jenderal, untuk melaksanakan upacara sumpah jabatan.
Dulu ketika pertama kali menginjakkan kaki di Halaman Depertemen Luar Negeri ketika akan mengurus keberangkatan aku ke Zimbabwe, ada perasaan takut untuk melewati halaman depan Gedung ini, bagi aku ini merupakan bangunan mewah (Istana Mini) jadi setiap harus melewati sana terpaksa berjalan agak terburu-buru khawatir ditegur satpam yang berada di pos tak jauh dari gedung itu, bahkan sama sekali tidak terpikir kalau bisa masuk kedalamnya, sedikit tidak percaya hari ini aku berada didalam ruangan bangunan bersejarah itu.
Gedung ini awalnya dibangun sebagai rumah kediaman Panglima Angkatan Perang yang juga merangkap sebagai Letnan Guberneur Jenderal, karena Departemen Urusan Peperangan Hindia Belanda dipindahkan ke Bandung yang dikuti juga dengan kepindahan Panglima ke kota tersebut, maka gedung bekas kediaman sang Panglima yang oleh Belanda mungkin dipandang cukup memadai untuk tempat persidangan Dewan Perwakilan Rakyat (Volksraad) kemudian diresmikan sebagai gedung Volksraad pada Mei 1918 oleh Gubernur Jenderal Limburg Stirum.
Sejak penyerangan Pearl Harbour oleh Jepang tanggal 8 Desember 1941, membuat Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang tanggal 8 Maret 1942, sejak saat itu gedung ini sering dipergunakan untuk melaksanakan sidang-sidang oleh Pemerintah Militer Jepang di Indonesia hingga akhirnya terbentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemrdekaan (BPUPK)
Dalam sidang BPUPK tanggal 1 Juni 1945 Ir. Soekarno menyampaikan pokok-pokok pemikirannya mengenai Dasar Negara Kita, kemudian tanggal tersebut dijadikan tanggal bersejarah, yang dikenal dengan Lahirnya Pancasila.
Sejak Amerika Serikat menjatuhkan Bom Atom pertamanya di Hiroshima, Pemerintah Militer jepang di Indonesia menyetujui Pembentukan Panitia Persiapan Kemrdekaan Indonesia (PPKI) yang seluruh aktivitas kegiatannya dilaksanakan di gedung ini sampai diproklamirkannya Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Sampai saat ini belum ditemukan catatan dan belum ada pihak yang meyatakan dengan tegas mengenai penamaan resmi Gedung Pancasila. Namun secara obyektif terdapat kenyataan sejarah bahwa di gedung ini para pemimpin bangsa telah mengambil keputusan sejarah yang sangat penting ketika pada bulan Mei, Juni dan Juli 1945 secara sepakat menentukan dasar negara yang akan dijadikan landasan bagi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu PANCASILA.
Keesokan harinya bertepatan dengan peringatan HUT RI ke-63, kami dijadwalkan untuk mengikuti Upacara di Halaman Gedung Depertemen Luar Negeri, sekaligus secara simbolis Bapak Menlu akan menyerahkan piagam penghargaan dalam rangkaian acara Upacara HUT RI tersebut, setelah selesai mengikuti Upacara kami bergegas kembali ke Hotel untuk persiapan perjalanan ke Bali menggunakan pesawat.

AKHIRNYA KE MONAS JUGA


Meskipun lahir dan besar di Jakarta, aku baru pertama kali menginjakan kaki di Monas ya kemarin itu bersama rombongan penerima penghargaan Menlu, kasian deh gue …. ?
masih tidak percaya ketika aku menegaskan bahwa aku juga belum pernah ke Monas selama ini kepada teman-teman serombongan, yang sebagian besar orang asing tapi aku tidak perduli karena yang penting tujuan aku tercapai, Sang Guide telah mengantar kami ke Monumen Nasional yang bersejarah itu.
Kami tiba di Monas sekitar jam 10 lebih setelah selesai makan pagi di Hotel, matahari tiba tiba muncul dan menjadi sangat panas ketika kami berhenti di parkiran Monas.
Setelah membeli karcis masuk masing masing seharga Rp 3,500 kami berjalan kaki melalui jalan penghubung dibawah tanah menuju bangunan Monas.
Puas mengambil gambar di pusat bangunan yaitu ruangan besar dengan diorama di sekeliling tembok yang memperlihatkan miniatur cikal bakal negara Indonesia dari berbagai kerajaan di nusantara, kami pun ingin melanjutkan ke puncak bangunan yaitu pelataran yang tepat berada di bawah emas Monas seberat 12 kg yang terkenal itu.
Baru saja berdiri di antrian yang lumayan panjang, tepat jam 12, kami mendengar pengumuman bahwa loket karcis untuk menuju ke puncak Monas sudah ditutup.
Awalnya kami merasa beruntung karena sempat membeli karcis masing masing seharga Rp 7,500 untuk dewasa sebelum loket ditutup namun setelah mengantri kebih dari satu jam dan mendapat informasi bahwa lift yang menuju ke puncak hanya ada satu, aku sempat berniat mengurungkan keinginan kami ke atas.
Devendra (sang guide) juga mengingatkan bahwa kami sudah jauh mengantri jadi sayang jika kami memutuskan pulang karena belum tentu dalam 5 tahun ke depan kami punya kesempatan lagi untuk ke Monas (lebay ya…. tapi memang demikian koq, biasanya semakin mudah kita pergi ke suatu tempat semakin malas kita untuk ke sana).
Akhirnya setelah 2 jam lebih mengantri, kami sampai juga di lift itu. Alangkah terkejutnya aku ketika petugas lift membiarkan 13 orang dewasa termasuk dirinya berada di lift. Lima menit di dalam lift itu sama lamanya dengan mengantri masuk lift buat aku. Aku tambah kaget ketika keluar dari lift, aku melihat lagi antrian orang yang ingin turun meskipun tidak sepanjang antrian yang naik namun tak urung, aku jadi berniat lebih lama berada diatas.
Masjid Istiqlal dan gedung yang kami kenal terlihat kecil dan taman-taman bunga di sekitar Monas jauh terlihat lebih indah penataannya jika dilihat dari atas. Aku sebenarnya agak enggan untuk turun setelah puas mengambil gambar, mengingat antrian dan kondisi lift tapi kami memang tidak punya pilihan karena turun tangga sangatlah panjang jika kami ingin menggunakannya.
Untungnya antrian turun tidak begitu lama dan kami pun sudah berada di lift setelah menunggu 4 kali lift turun. Ternyata ketika turun pun petugas lift yang baru tetap tidak melarang ketika 15 orang dewasa termasuk dirinya berada di dalam lift bersama 2 anak kecil Setelah lima menit lebih yang mendebarkan, kamipun sampai di lantai 2 yaitu pelataran yang berbentuk kelopak dari bangunan monumen ini. Lagi lagi kami berhenti dan mengambil gambar di situ.
Sekilas mengenai Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas adalah salah satu dari monumen peringatan yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah Belanda.
Monumen Nasional yang terletak di Lapangan Monas, Jakarta Pusat, dibangun pada dekade 1961an.
Tugu Peringatan Nasional dibangun di areal seluas 80 hektar. Tugu ini diarsiteki oleh Soedarsono dan Frederich Silaban, dengan konsultan Ir. Rooseno, mulai dibangun Agustus 1959, dan diresmikan 17 Agustus 1961 oleh Presiden RI Soekarno. Monas resmi dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975.
Pembagunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terbangkitnya inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang.
Tugu Monas yang menjulang tinggi dan melambangkan lingga (alu atau anatan) yang penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Semua pelataran cawan melambangkan Yoni (lumbung). Alu dan lumbung merupakan alat rumah tangga yang terdapat hampir di setiap rumah penduduk pribumi Indonesia.
Lapangan Monas mengalami lima kali penggantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur, Minggu atau libur sekolah banyak masyarakat yang berkunjung ke sini.
Bentuk Tugu peringatan yang satu ini sangat unik. Sebuah batu obeliks yang terbuat dari marmer yang berbentuk lingga yoni simbol kesuburan ini tingginya 132 m.
Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang berbentuk nyala obor perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35kg. Lidah api atau obor ini sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia yang ingin meraih kemerdekaan.
Pelataran puncak dengan luas 11x11 dapat menampung sebanyak 50 pengunjung. Pada sekeliling badan elevator terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi. Dari pelataran puncak tugu Monas, pengunjung dapat menikmati pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. Arah ke selatan berdiri dengan kokoh dari kejauhan Gunung Salak di wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat, arah utara membentang laut lepas dengan pulau-pulau kecil berserakan. Bila menoleh ke Barat membentang Bandara Soekarno-Hatta yang setiap waktu terlihat pesawat lepas landas.
Dari pelataran puncak, 17 m lagi ke atas, terdapat lidah api, terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton dan berdiameter 6 m, terdiri dari 77 bagian yang disatukan.
Pelataran puncak tugu berupa "Api Nan Tak Kunjung Padam" yang berarti melambangkan Bangsa Indonesia agar dalam berjuang tidak pernah surut sepanjang masa. Tinggi pelataran cawan dari dasar 17 m dan ruang museum sejarah 8 m. Luas pelataran yang berbentuk bujur sangkar, berukuran 45x45 m, merupakan pelestarian angka keramat Proklamasi Kemerdekaan RI (17-8-1945).
Pengunjung kawasan Monas, yang akan menaiki pelataran tugu puncak Monas atau museum, dapat melalui pintu masuk di seputar plaza taman Medan Merdeka, di bagian utara Taman Monas. Di dekatnya terdapat kolam air mancur dan patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kuda, terbuat dari perunggu seberat 8 ton.
Patung itu dibuat oleh pemahat Italia, Prof. Coberlato sebagai sumbangan oleh Konsulat Jendral Honores, Dr Mario di Indonesia. Melalui terowongan yang berada 3 m di bawah taman dan jalan silang Monas inilah, pintu masuk pengunjung ke tugu puncak Monas yang berpagar "Bambu Kuning".
Landasan dasar Monas setinggi 3 m, di bawahnya terdapat ruang museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80x80 m, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang.
Pada keempat sisi ruangan terdapat 12 jendela peragaan yang mengabdikan peristiwa sejak zaman kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia. Keseluruhan dinding, tiang dan lantai berlapis marmer. Selain itu, ruang kemerdekaan berbentuk amphitheater yang terletak di dalam cawan tugu Monas, menggambarkan atribut peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Kemerdekaan RI, bendera merah putih dan lambang negara dan pintu gapura yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Di dalam bangunan Monumen Nasional ini juga terdapat museum dan aula untuk bermeditasi. Para pengunjung dapat naik hingga ke atas dengan menggunakan elevator. Dari atau Monumen Nasional dapat dilihat kota Jakarta dari puncak monumen. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari, mulai pukul 09.00 - 16.00 WIB.
Bentuk Tugu peringatan yang satu ini sangat unik. Sebuah batu obeliks yang terbuat dari marmer yang berbentuk lingga yoni simbol kesuburan ini tingginya 132 m.
Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang berbentuk nyala obor perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35kg. Lidah api atau obor ini sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia yang ingin meraih kemerdekaan.
Pelataran puncak dengan luas 11x11 dapat menampung sebanyak 50 pengunjung. Pada sekeliling badan elevator terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi. Dari pelataran puncak tugu Monas, pengunjung dapat menikmati pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. Arah ke selatan berdiri dengan kokoh dari kejauhan Gunung Salak di wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat, arah utara membentang laut lepas dengan pulau-pulau kecil berserakan. Bila menoleh ke Barat membentang Bandara Soekarno-Hatta yang setiap waktu terlihat pesawat lepas landas.
Dari pelataran puncak, 17 m lagi ke atas, terdapat lidah api, terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton dan berdiameter 6 m, terdiri dari 77 bagian yang disatukan.
Pelataran puncak tugu berupa "Api Nan Tak Kunjung Padam" yang berarti melambangkan Bangsa Indonesia agar dalam berjuang tidak pernah surut sepanjang masa. Tinggi pelataran cawan dari dasar 17 m dan ruang museum sejarah 8 m. Luas pelataran yang berbentuk bujur sangkar, berukuran 45x45 m, merupakan pelestarian angka keramat Proklamasi Kemerdekaan RI (17-8-1945).
Pengunjung kawasan Monas, yang akan menaiki pelataran tugu puncak Monas atau museum, dapat melalui pintu masuk di seputar plaza taman Medan Merdeka, di bagian utara Taman Monas. Di dekatnya terdapat kolam air mancur dan patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kuda, terbuat dari perunggu seberat 8 ton.
Patung itu dibuat oleh pemahat Italia, Prof. Coberlato sebagai sumbangan oleh Konsulat Jendral Honores, Dr Mario di Indonesia. Melalui terowongan yang berada 3 m di bawah taman dan jalan silang Monas inilah, pintu masuk pengunjung ke tugu puncak Monas yang berpagar "Bambu Kuning".
Landasan dasar Monas setinggi 3 m, di bawahnya terdapat ruang museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80x80 m, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang.
Pada keempat sisi ruangan terdapat 12 jendela peragaan yang mengabdikan peristiwa sejak zaman kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia. Keseluruhan dinding, tiang dan lantai berlapis marmer. Selain itu, ruang kemerdekaan berbentuk amphitheater yang terletak di dalam cawan tugu Monas, menggambarkan atribut peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Kemerdekaan RI, bendera merah putih dan lambang negara dan pintu gapura yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Di dalam bangunan Monumen Nasional ini juga terdapat museum dan aula untuk bermeditasi. Para pengunjung dapat naik hingga ke atas dengan menggunakan elevator. Dari atau Monumen Nasional dapat dilihat kota Jakarta dari puncak monumen. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari, mulai pukul 09.00 - 16.00 WIB.
Bagi yang orang Indonesia asli kunjungan ke Monas mungkin sudah dianggap biasa, tapi kunjungan kali ini mempunyai makna lain bagi aku, karena kami didampingi oleh pemandu wisata, sehingga kita dapat mengetahui dengan jelas semua obyek yang di lihat berdasarkan keterangan dari pemandu, selama mengikuti kunjungan tersebut banyak ha-hal baru yang sebelumnya tidak pernah diketahui, sehingga lebih menambah wawasan aku.

PENGABDIAN BERBUAH PENGHARGAAN


Pengabdian adalah segalanya bagi aku selama hampir 20 tahun bekerja sebagai Pegawai Setempat dan karyawan, aku berusaha semaksimal mungkin bekerja dengan baik agar sedikitpun tidak melakukan kesalahan. Kalau dilihat dari masa kerja, boleh dibilang sudah sangat berpengalaman . Namun hingga usia mencapai 44 tahun, jabatan yang pernah disandang tak lebih dari posisi Staff di bagian keuangan, yang membentuk profesionalitas aku di bidang ini.
Pada awal bekerja aku sangat senang, bagi aku suka dan duka dihadapi biasa saja, karena memang sudah menjadi tekad aku untuk mendapatkan pekerjaan agar bisa membantu keluarga yang telah ditinggal Bapak yang meninggal pada bulan Nopember 1986.
Aku bekerja untuk menghidupi empat orang adik dan membiayai sekolah mereka hingga semuanya bisa tamat SMA. Hingga aku menikah masih terus membiayai adik-adik. Aku sebagai anak pertama dari lima bersaudara yang pernah bercita-cita melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi namun tidak kesampaian.
Sekian puluh tahun bekerja, karir aku tidak pernah naik, memang pekerjaan sebagai local staff itu merupakan pekerjaan yang tidak memiliki jenjang karir. Aku kan hanya lulusan SMA. Jadi selama puluhan tahun bekerja di KBRI nggak ada peningkatan. Begini gini aja, namun aku tetap bersyukur kehadirat Allah SWT karena masih diberikan kesehatan masih bisa bekerja dengan baik.
Meskipun karir sudah mentok kejujuran dan kepercayaan selalu aku pegang, aku selalu berupaya melakukan kesahalan sekecil mungkin.
Dari kegigihan aku bekerja selama ini tanpa disangka-sangka pada bulan Agustus tahun 2007 aku mendapat penghargaan atas pengabdian aku selama ini pada Perwakilan RI dari Menteri Luar Negeri, aku sendiri selama ini tidak pernah berharap, rupanya ini sudah menjadi kehendak Allah SWT yang mencurahkan rejeki kepada hambanya.
Ini merupakan kebanggaan aku, penghargaan ini diberikan kepada aku atas pengabdian kepada Pemerintah RI memlalui Perwakilan RI di Luar Negeri selama 15 tahun pada saat bekerja di KBRI Harare dan KBRI Tripoli.
Aku merasa bersyukur, keiklasan aku bekerja selama ini ternyata mendapat penghargaan dari Pimpinan. Untuk menerima penghargaan tersebut aku harus ke Jakarta karena ada beberapa rangkaian kegiataan yang harus diikuti.
Berdasarkan pengarahan dari Biro Kepegawaian Deplu aku bergabung dengan teman-teman dari Perwakilan lainnya yang sama-sama akan menerima penghargaan, semuanya berjumlah 30 orang. Kami berkumpul di Hotel Accasia di Jl. Kramat Raya.
Kami telah dijadwalkan untuk mengikuti serangkaian kegiatan selama berada di Indonesia :

SELERA KAMPUNG


Kemiri, pete, keluwek, ketumbar, kecap, terasi, gula merah, kerupuk, sambal pecel, salam, lengkuas…fiuuh..banyak sekali barang-barang kebutuhan dapur yang harus kubawa. Semoga beratnya tidak melebihi kapasitas bagasi pesawat Emirat yang aku tumpangi kali ini. Begitulah setiap kali pulang ke kampung halaman, Indonesia tercinta, ada-ada saja barang-barang atau rempah-rempah yang selalu ingin kubawa, karena benda tersebut tidak ada di negara tempatku tinggal selama hampir 6 tahun ini.
Karena seleranya sudah selera kampung yang tidak bisa diganggu gugat, maka bumbu-bumbu khas kampung halaman harus selalu ada di dapur kami. Rempah-rempah ini pula yang menyebabkan negara kita dulunya dijajah Belanda 350 tahun lamanya. Karena selain jarang, rempah-rempah ini dijual mahal.
Barang bawaan sepertinya melebihi kapasitas yang diperbolehkan, atas bantuan dari Staf Deplu yang aku temui di Bandara, akhirnya, setelah sedikit berdebat dengan petugas counter pesawat, lolos juga barang-barangku masuk ke perut pesawat. Masih beruntung mereka tidak memaksa untuk membuka dan mengobrak-abrik isi koperku, seperti yang dialami oleh lelaki yang antri sebelum aku. Malu rasanya kalau sampai mereka melihat isi koperku, karena isinya bumbu dapur semua..haha.
Setelah menempuh perjalanan selama 14 jam dan sempat transit di Dubai selama kurang lebih 2 jam, akhirnya sampailah aku di ibukota Tripoli, Libya. Disambut cuaca panas bersuhu 39 derajat celcius, rasanya seperti masuk kedalam oven. Lebih panas dari Jakarta, tapi itu elum seberapa karena jika musim panas mencapa puncaknya suhu bisa mencapai 45 derajat celcius.
Yah, begitulah sedikit cerita tentang kota yang kini menjadi tempat tinggalku. Aku selalu bersyukur dimanapun aku harus tinggal. Walaupun di kota ini tidak terdapat barang-barang kebutuhan kami seperti kecap, kemiri, pete dan sebagainya, tapi aku bersyukur disini berlimpah buah zaitun, minyak zaitun dan berbagai macam buah yang sulit dicari di Indonesia seperti buah stroberi yang segede tomat merah, buah ceri yang ranum, buah tin, buah durra, dan buah kaktus yang rasanya mirip pepaya.
Baiklah, sekarang sudah sampai rumah, waktunya membuka isi koper. Kemiri, pete, kecap, sambal pecel…oke ada semua.. tapi..uups…ada satu yang aku lupa bawa, favoritku: bakso…hahaha..

TELUR ASIN ASAP


Pada jaman dahulu kala, yang aku inget dari telur asin adalah statusnya sebagai makanan wajib dikala bepergian jauh. Mau itu dibungkus bersama lontong ataupun going solo, statusnya tetep: kalau mau bepergian jauh atau piknik, maka telur asin ini harus ada! Hal ini sendiri mungkin terjadi disebabkan karakter si telur asin itu sendiri yang memang cocok untuk perjalanan jauh; awet (bisa tahan beberapa hari di udara terbuka), ringkas (tanpa kemasan tambahan pun sudah cukup kuat), higienis (tidak perlu kemasan khusus untuk menjaga kebersihan), praktis (tinggal dikupas bisa langsung dimakan, tidak usah dimasak lagi, tidak usah bawa garam untuk perasa), sehat bergizi (telur termasuk makanan tinggi protein, dan juga mengandung asam omega 3), serta dibading sumber protein lainnya maka harga telur asin itu relatif murah, dan jika dibandingkan dengan telur rebus rumahan, telur asin juga sudah memiliki karakter rasa yang cukup kuat sehingga kita tidak perlu repot membawa garam, merica, atau sambal yang pada masa dulu belum dijual dalam kemasan sachet praktis seperti sekarang ini. … atau apakah hari gini masih ada yang disuguhin telur asin plus lontong (bukannya McD atau KFC) kala sedang darmawisata atau outing bareng kantor?
Dan telur asin ini menjadi menu yang paling aku sukai diwaktu kecil, namun seiring waktu, entah karena bosan, atau dianggap kampungan, kebiasaan bepergian dengan bekal telur asin sendiri lambat laun semakin berkurang, dan akhirnya menghilang… hingga suatu hari sepulang dari Slawi dengan menggunakan kendaraan seorang teman, memasuki kota Brebes banyak sekali toko-toko yang menjajakan telur asin, konon daerah ini terkenal dengan telur asinnya. Aku sempat berhenti disebuah toko, karena temanku bermaksud untuk membelinya sebagai oleh-oleh untuk teman-teman di kantor katanya. Sang penjual pun menawarkan jenis telur asin yang dikehendaki … karena ada beberapa jenis telur asin yang dimatangkan dengan cara yang berbeda yaitu : di rebus, di asap dan di panggang …. Oh aku baru tahu ternyata cukup creative juga para pengrajin telur asin ini.
Namun walaupun konsumsi nasional mungkin menurun, tapi penggemar makanan unik yang satu ini tetep ada, karena nilai manfaat dari telur asin sendiri tidaklah lantas hilang, hanya nilai trend nya yang menurun. Di bidang kuliner, para juru masakpun ternyata tak henti-hentinya muncul dengan inovasi berdasar bahan makanan yang satu ini. Hal ini terjadi tak lain, karena aroma dan tekstur telur asin yang cenderung unik dan tidak ada padanannya di makanan lain!
Dari sisi produsen, baik teknologi maupun cara pengolahan telur asin cenderung tidak berkembang banyak mungkin dalam limapuluh tahun terakhir. Namun walau demikian, salahsatu inovasi dalam hal pengolahan telur asin ini sesekali muncul. Misalnya seperti yang banyak dipraktikkan sekarang ini; yaitu dengan melakukan proses pengasapan di akhir proses produksi. Dan masyarakatpun kemudian mengenal satu varian baru makanan ini, yaitu Telur Asin Asap.
Dari segi penampilan, Telur Asin Asap ini memiliki ciri adanya karakter warna marbling kecoklatan pada kulit telur. Beberapa masih memiliki warna dasar biru, sedangkan lainnya ada yang coklat penuh sehingga memiliki kemiripan rupa dengan telur pindang.
Karena daya tahan simpan yang tinggi, lebih tinggi dari telur asin biasa, maka Telur Asin Asap ini biasanya cukup diletakkan di dry storage di toko-toko, dalam bentuk kemasan satu pak plastik tapi biasanya boleh dibeli satuan juga. Penyebarannya saat ini di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur sudah cukup merata di toko-toko kecil maupun besar, sedangkan yang berada diluar daerah tersebut bisa mencoba mencarinya di supermarket besar dan hypermarket.
Dari segi rasa, ternyata Telur Asin Asap memiliki karakter rasa yang bagus; rasanya nggak terlalu asin, lebih tidak amis dibandingkan telur asin biasa, dan ditambah lagi adanya aroma rasa smokey yang lembut kala telur dikonsumsi. Lucu juga soal aroma ini, karena setelah diperhatikan betul-betul sepertinya nyaris nggak ada perbedaan rasa dengan telur asin biasa, hanya saja penambahan aroma tersebut membuat sensasi kenikmatannya cukup berbeda. Apalagi nuansa aroma smokey nya ini terus terbawa hingga ke tahap aftertaste. Yang rada mengherankan adalah; karakter aroma smokey nya ini justru lebih kuat di bagian kuning telurnya, bukan di bagian putih telurnya yang berada lebih luar. Hal ini cukup mengubah karakter rasa keseluruhan dari si kuning telur tersebut, memberikan sensasi rasa yang berbeda.
Dari pengrajinnya, Telur Asin Asap ini dijual dengan harga, nyaris dua kali lipat harga telur asin biasa. Namun walaupun lebih mahal, rasanya telur asin asap ini memang menarik untuk variasi hidangan telur di daftar makanan anda. Tertarik untuk mencoba?

ZIARAH KE MAKAM IMAM SYAFEI


Tentunya kita semua tahu atau paling tidak pernah dengar nama Imam Syafi’i. Beliau adalah salah satu imam dari empat madzhab fiqih. Nama asli beliau adalah Muhammad bin Idris as-Syafi’i. Beliau dilahirkan pada tahun 150 H di Gaza, Palestina. Di mana pada tahun kelahiran beliau ini, juga merupakan tahun meninggalnya Imam Abu Hanifah. Kepandaian dan ketaatan beliau sudah terlihat dari kecil. Terbukti di umur yang sungguh relatif kecil, beliau sudah hafal al-Qur’an.
Hari terakhir dari serangkain kunjungan di Cairo dimanfaatkan untuk melakukan kunjungan ke Masjid Imam Syafei di kawasan Hay Syafei, pinggiran kota Cairo yang termasuk dalam daerah Old Cairo (Cairo Lama) yang masih kumuh.
Tempat ini terletak di kawasan Hayyun Syafi’i, di daerah Sayyidah ‘Aisyah. Di sepanjang jalan menuju kawasan ini, kita akan menemukan kuburan-kuburan yang konon katanya adalah kuburan orang-orang terhormat dan para syuhada. Di sana juga terdapat makam Waqi’ gurunya Imam Syafi’i.
Mesjid ini berdampingan dengan makam Imam Muhammad bin Idris As-Syafei, yang lebih dikenal dengan nama Imam Syafei, salah satu imam dari empat mazhab ahli sunnah. Imam mazhab ini pernah di Irak, lalu hijrah ke Mesir, sehingga dalam mazhab fikihnya ada istilah fatwa qadim dan jaded. Beliau wafat pada tahun 820 M. Bangunan makam dipagari dengan dinding/pagar kayu berukir, hadiah kaum muslimin India
Di samping makam Imam Syafi’i terdapat jejak kaki yang konon katanya jejak kaki Rasulullah. Jejak kaki itu langsung diambil dari Arab Saudi. Namun kebanyakan penduduk sekitar hanya meyakini bahwa itu adalah jejak kaki salah seorang nabi. Namun tidak dapat dipastikan jejak kaki nabi siapa. Jadi sebenarnya sulit untuk membuktikan kebenaran tentang jejak kaki tersebut. aroma wangi dari telapak itu masih terasa ketika kita menciumnya.
Meskipun kawasan ini terlihat kurang terawat, tapi makam Imam Syafi’i ini juga menjadi salah satu obyek sejarah yang banyak dikunjungi oleh wisatawan. Di sekitar kawasan ini terdapat pasar kecil tradisional, dan juga beberapa para peminta-minta. Kemudian di samping makam Imam Syafi’i ini juga terdapat tempat talaqqi atau belajar al-Qur’an.
Maka bagi teman-teman yang mau jalan-jalan di Mesir khususnya Kairo, jangan lupa untuk ziarah ke makam Imam Syafi’i. Apa lagi bagi kalian yang bermadzhab Syafi’i.[]
Sekilas tentang Imam Syafei
Muhammad bin Idris asy-Syafi`i (bahasa Arab: محمد بن إدريس الشافعي) yang akrab dipanggil Imam Syafi'i (Gaza, Palestina, 150 H / 767 - Fusthat, Mesir 204H / 819M) adalah seorang mufti besar Sunni Islam dan juga pendiri mazhab Syafi'i. Imam Syafi'i juga tergolong kerabat dari Rasulullah, ia termasuk dalam Bani Muththalib, yaitu keturunan dari al-Muththalib, saudara dari Hasyim, yang merupakan kakek Muhammad.
Saat usia 20 tahun, Imam Syafi'i pergi ke Madinah untuk berguru kepada ulama besar saat itu, Imam Malik. Dua tahun kemudian, ia juga pergi ke Irak, untuk berguru pada murid-murid Imam Hanafi di sana.
Imam Syafi`i mempunyai dua dasar berbeda untuk Mazhab Syafi'i. Yang pertama namanya Qaulun Qadim dan Qaulun Jadid.
Kelahiran
Kebanyakan ahli sejarah berpendapat bahwa Imam Syafi'i lahir di Gaza, Palestina, namun diantara pendapat ini terdapat pula yang menyatakan bahwa dia lahir di Asqalan; sebuah kota yang berjarak sekitar tiga farsakh dari Gaza. Menurut para ahli sejarah pula, Imam Syafi'i lahir pada tahun 150 H, yang mana pada tahun ini wafat pula seorang ulama besar Sunni yang bernama Imam Abu Hanifah.
Nasab
Imam Syafi'i merupakan keturunan dari al-Muththalib, jadi dia termasuk ke dalam Bani Muththalib. Nasab Beliau adalah Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As-Sa’ib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin Al-Mutthalib bin Abdulmanaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah di Abdul-Manaf.
Dari nasab tersebut, Al-Mutthalib bin Abdi Manaf, kakek Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie, adalah saudara kandung Hasyim bin Abdi Manaf kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam .
Kemudian juga saudara kandung Abdul Mutthalib bin Hasyim, kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam , bernama Syifa’, dinikahi oleh Ubaid bin Abdi Yazid, sehingga melahirkan anak bernama As-Sa’ib, ayahnya Syafi’. Kepada Syafi’ bin As-Sa’ib radliyallahu `anhuma inilah bayi yatim tersebut dinisbahkan nasabnya sehingga terkenal dengan nama Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie Al-Mutthalibi. Dengan demikian nasab yatim ini sangat dekat dengan Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam .
Bahkan karena Hasyim bin Abdi Manaf, yang kemudian melahirkan Bani Hasyim, adalah saudara kandung dengan Mutthalib bin Abdi manaf, yang melahirkan Bani Mutthalib.
Masa belajar
Setelah ayah Imam Syafi’i meninggal dan dua tahun kelahirannya, sang ibu membawanya ke Mekah, tanah air nenek moyang. Ia tumbuh besar di sana dalam keadaan yatim. Sejak kecil Syafi’i cepat menghafal syair, pandai bahasa Arab dan sastra sampai-sampai Al Ashma’i berkata,”Aku mentashih syair-syair bani Hudzail dari seorang pemuda dari Quraisy yang disebut Muhammad bin Idris,” Imam Syafi’i adalah imam bahasa Arab.
Belajar di Makkah
Di Makkah, Imam Syafi’i berguru fiqh kepada mufti di sana, Muslim bin Khalid Az Zanji sehingga ia mengizinkannya memberi fatwah ketika masih berusia 15 tahun. Demi ia merasakan manisnya ilmu, maka dengan taufiq Allah dan hidayah-Nya, dia mulai senang mempelajari fiqih setelah menjadi tokoh dalam bahasa Arab dan sya’irnya. Remaja yatim ini belajar fiqih dari para Ulama’ fiqih yang ada di Makkah, seperti Muslim bin khalid Az-Zanji yang waktu itu berkedudukan sebagai mufti Makkah.
Kemudian beliau juga belajar dari Dawud bin Abdurrahman Al-Atthar, juga belajar dari pamannya yang bernama Muhammad bin Ali bin Syafi’, dan juga menimba ilmu dari Sufyan bin Uyainah.
Guru yang lainnya dalam fiqih ialah Abdurrahman bin Abi Bakr Al-Mulaiki, Sa’id bin Salim, Fudhail bin Al-Ayyadl dan masih banyak lagi yang lainnya. Dia pun semakin menonjol dalam bidang fiqih hanya dalam beberapa tahun saja duduk di berbagai halaqah ilmu para Ulama’ fiqih sebagaimana tersebut di atas.
Belajar di Madinah
Kemudian beliau pergi ke Madinah dan berguru fiqh kepada Imam Malik bin Anas. Beliau mengaji kitab Muwattha’ kepada Imam Malik dan menghafalnya dalam 9 malam. Imam Syafi’i meriwayatkan hadis dari Sufyan bin Uyainah, Fudlail bin Iyadl dan pamannya, Muhamad bin Syafi’ dan lain-lain.
Di majelis beliau ini, si anak yatim tersebut menghapal dan memahami dengan cemerlang kitab karya Imam Malik, yaitu Al-Muwattha’ . Kecerdasannya membuat Imam Malik amat mengaguminya. Sementara itu As-Syafi`ie sendiri sangat terkesan dan sangat mengagumi Imam Malik di Al-Madinah dan Imam Sufyan bin Uyainah di Makkah.
Beliau menyatakan kekagumannya setelah menjadi Imam dengan pernyataannya yang terkenal berbunyi: “Seandainya tidak ada Malik bin Anas dan Sufyan bin Uyainah, niscaya akan hilanglah ilmu dari Hijaz.” Juga beliau menyatakan lebih lanjut kekagumannya kepada Imam Malik: “Bila datang Imam Malik di suatu majelis, maka Malik menjadi bintang di majelis itu.” Beliau juga sangat terkesan dengan kitab Al-Muwattha’ Imam Malik sehingga beliau menyatakan: “Tidak ada kitab yang lebih bermanfaat setelah Al-Qur’an, lebih dari kitab Al-Muwattha’ .” Beliau juga menyatakan: “Aku tidak membaca Al-Muwattha’ Malik, kecuali mesti bertambah pemahamanku.”
Dari berbagai pernyataan beliau di atas dapatlah diketahui bahwa guru yang paling beliau kagumi adalah Imam Malik bin Anas, kemudian Imam Sufyan bin Uyainah. Di samping itu, pemuda ini juga duduk menghafal dan memahami ilmu dari para Ulama’ yang ada di Al-Madinah, seperti Ibrahim bin Sa’ad, Isma’il bin Ja’far, Atthaf bin Khalid, Abdul Aziz Ad-Darawardi. Beliau banyak pula menghafal ilmu di majelisnya Ibrahim bin Abi Yahya. Tetapi akung, guru beliau yang disebutkan terakhir ini adalah pendusta dalam meriwayatkan hadits, memiliki pandangan yang sama dengan madzhab Qadariyah yang menolak untuk beriman kepada taqdir dan berbagai kelemahan fatal lainnya. Sehingga ketika pemuda Quraisy ini telah terkenal dengan gelar sebagai Imam Syafi`ie, khususnya di akhir hayat beliau, beliau tidak mau lagi menyebut nama Ibrahim bin Abi Yahya ini dalam berbagai periwayatan ilmu.
Di Yaman
Imam Syafi’i kemudian pergi ke Yaman dan bekerja sebentar di sana. Disebutkanlah sederet Ulama’ Yaman yang didatangi oleh beliau ini seperti: Mutharrif bin Mazin, Hisyam bin Yusuf Al-Qadli dan banyak lagi yang lainnya. Dari Yaman, beliau melanjutkan tour ilmiahnya ke kota Baghdad di Iraq dan di kota ini beliau banyak mengambil ilmu dari Muhammad bin Al-Hasan, seorang ahli fiqih di negeri Iraq. Juga beliau mengambil ilmu dari Isma’il bin Ulaiyyah dan Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi dan masih banyak lagi yang lainnya.
Di Baghdad, Irak
Kemudian pergi ke Baghdad (183 dan tahun 195), di sana ia menimba ilmu dari Muhammad bin Hasan. Beliau memiliki tukar pikiran yang menjadikan Khalifah Ar Rasyid.

Di Mesir
Imam Syafi’i bertemu dengan Ahmad bin Hanbal di Mekah tahun 187 H dan di Baghdad tahun 195 H. Dari Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Syafi’i menimba ilmu fiqhnya, ushul madzhabnya, penjelasan nasikh dan mansukhnya. Di Baghdad, Imam Syafi’i menulis madzhab lamanya (madzhab qodim). Kemudian beliu pindah ke Mesir tahun 200 H dan menuliskan madzhab baru (madzhab jadid). Di sana beliau wafat sebagai syuhadaul ilm di akhir bulan Rajab 204 H.
Karya tulis
Ar-Risalah
Salah satu karangannya adalah “Ar Risalah” buku pertama tentang ushul fiqh dan kitab “Al Umm” yang berisi madzhab fiqhnya yang baru. Imam Syafi’i adalah seorang mujtahid mutlak, imam fiqh, hadis, dan ushul. Beliau mampu memadukan fiqh ahli Irak dan fiqh ahli Hijaz. Imam Ahmad berkata tentang Imam Syafi’i,”Beliau adalah orang yang paling faqih dalam Al Quran dan As Sunnah,” “Tidak seorang pun yang pernah memegang pena dan tinta (ilmu) melainkan Allah memberinya di ‘leher’ Syafi’i,”. Thasy Kubri mengatakan di Miftahus sa’adah,”Ulama ahli fiqh, ushul, hadits, bahasa, nahwu, dan disiplin ilmu lainnya sepakat bahwa Syafi’i memiliki sifat amanah (dipercaya), ‘adaalah (kredibilitas agama dan moral), zuhud, wara’, takwa, dermawan, tingkah lakunya yang baik, derajatnya yang tinggi. Orang yang banyak menyebutkan perjalanan hidupnya saja masih kurang lengkap,”
Mazhab Syafi'i
Dasar madzhabnya: Al Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Beliau juga tidak mengambil Istihsan (menganggap baik suatu masalah) sebagai dasar madzhabnya, menolak maslahah mursalah, perbuatan penduduk Madinah. Imam Syafi’i mengatakan,”Barangsiapa yang melakukan istihsan maka ia telah menciptakan syariat,”. Penduduk Baghdad mengatakan,”Imam Syafi’i adalah nashirussunnah (pembela sunnah),”
Al-Hujjah
Kitab “Al Hujjah” yang merupakan madzhab lama diriwayatkan oleh empat imam Irak; Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, Za’farani, Al Karabisyi dari Imam Syafi’i.
Al-Umm
Sementara kitab “Al Umm” sebagai madzhab yang baru Imam Syafi’i diriwayatkan oleh pengikutnya di Mesir; Al Muzani, Al Buwaithi, Ar Rabi’ Jizii bin Sulaiman. Imam Syafi’i mengatakan tentang madzhabnya,”Jika sebuah hadits shahih bertentangan dengan perkataanku, maka ia (hadis) adalah madzhabku, dan buanglah perkataanku di belakang tembok,”
Selesai berziarah kemakam beliau kami bergegas menuju airport untuk kembali ke Tripoli, sebuah pengalaman religius paling berharga yang aku dapati selama berkunjung ke Cairo.